Membaca Represi, Mengawal Demokrasi: Refleksi BEM FISIP UHO Lewat Laut Bercerita

Keterangan Gambar : Lapak baca dan bedah buku novel Laut Bercerita di FISIP UHO

KENDARI – Taman Rekson Sosiologi FISIP Universitas Halu Oleo (UHO) bertransformasi menjadi arena dialektika kritis pada Rabu (14/10/2026).

Diinisiasi oleh Wakil Ketua BEM FISIP UHO, Muh. Fatu Rahman, ruang terbuka kampus tersebut dihidupkan melalui gelaran lapak baca dan bedah buku novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.

Agenda ini hadir sebagai wahana bagi mahasiswa untuk menggali nilai kemanusiaan, merefleksikan jejak sejarah, serta menguliti dinamika sosial-politik dan demokrasi melalui kacamata sastra.

Rangkaian acara diawali dengan lapak baca yang menyajikan pelbagai koleksi literatur. Inisiatif ini tidak hanya mendekatkan akses bacaan di lingkungan kampus, tetapi juga merangsang tumbuhnya budaya literasi dan tradisi bertukar pemikiran.

Suasana diskusi kian berbobot saat Dion, Koordinator Departemen sekaligus Menteri Pergerakan BEM FISIP UHO, tampil sebagai pemantik. Para peserta diajak membedah kedalaman narasi Laut Bercerita, merajut benang merah antara trauma sejarah—seperti represi politik, ingatan kolektif, dan rasa kehilangan—dengan lanskap perpolitikan serta isu kemanusiaan masa kini.

Muh. Fatu Rahman menegaskan bahwa dinamika intelektual kampus tidak boleh terpasung dalam sekat formalitas akademik semata. Ruang publik kampus harus dioptimalkan untuk mengasah keberanian berpikir dan menyampaikan gagasan secara terbuka.

“Taman kampus seperti Taman Rekson Sosiologi tidak boleh berhenti sebagai ruang transit fisik semata, melainkan harus bertransformasi menjadi laboratorium gagasan. Melalui bedah buku Laut Bercerita ini, kami ingin menyulut kembali gairah literasi kritis mahasiswa—agar tidak sekadar mengeja teks, tetapi mampu mengontekstualisasikan realitas sosial dan sejarah perjuangan dalam gerak langkah mahasiswa hari ini,” ujar Faturahman, Kamis (15/10/2026).

Bagi BEM FISIP UHO, membaca bukanlah aktivitas pasif menyerap tulisan, melainkan fondasi untuk membangun kesadaran kritis dan mengasah kepekaan sosial.

“Melalui ruang diskusi yang terbuka dan partisipatif ini, BEM FISIP UHO berkomitmen merawat tradisi intelektual secara berkelanjutan demi mengawal iklim demokrasi dan keadilan sosial,” tegasnya.

Laporan: Jumrin

Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *