KONAWE KEPULAUAN – Sejumlah warga di Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) menggelar unjuk rasa tolak tambang yang akan beroperasi di Desa Sukarela Jaya Kecamatan Wawonii Tenggara, Kamis (3/3/2021).
Unjuk rasa warga berujung bentrok dengan pihak PT Gema Kreasi Perdana (GKP) yang merupakan anak perusahaan Harita Group. Bentrok terjadi akibat PT GKP diduga menerobos lahan milik warga.
Dalam video yang diterima Potretsultra.com, tampak puluhan warga terlibat cekcok dengan pihak PT GKP. Sebagian emak-emak menangis histeris bahkan ada yang jatuh pingsan saat menghadang alat berat.
Penerobosan yang diduga secara paksa ini menuai kecaman dari sejumlah pihak, salah satunya dari Presidium Nasional Persatuan Nasional Aktivis (Pena 98), Erwin Usman.
Menurut Erwin, Harita Grup apapun dalihnya sebagai grup usaha besar, sangat tak pantas untuk terus menggunakan cara-cara kekerasan serta merampas tanah dan hak asasi warga. Tak ada satupun fakta historikal, di era modern ini, sebuah usaha dapat berjalan baik dengan pola pendekatan kekerasan tersebut.
“Cara-cara Harita Grup ini, pantas untuk dikecam keras dan dituntut pertanggungjawaban hukum,” ungkap Erwin dalam keterangan persnya.
Erwin berharap, agar para Tim Pembela dapat serius memproses laporan dugaan tindak pidana ini. Ia juga mempertanyakan keberadaan aparat di lokasi yang dugaan penerobosan lahan di Desa Sukarela Jaya Kecamatan Wawonii Tenggara tersebut.
“Utamanya keberadaan aparat di lokasi, Kapolda Sultra dan Danrem Haluoleo Kendari mesti menjelaskan hal itu,” katanya.
Erwin meminta agar Menteri ESDM, Arifin Tasrif dan Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia juga Gubernur Sultra, Ali Mazi tidak diam saja melihat gejolak yang terjadi di Pulau Wawonii ini.
“Bertindaklah, lindungi warga, ambil sikap tegas. Bapak-Bapak diamanahkan dalam jabatan untuk berpihak kepada masyarakat, bukan terus membela investasi,” tegasnya.
Erwin juga mendesak agar PT GKP segera ditutup. Apalagi, konflik dan kekerasan di Pulau Wawonii ini sudah lama dan berlarut-larut. Setidaknya kekerasan bermula sejak tahun 2019. Pembiaran seperti ini tentu menjadi tanda tanya besar.
“Saya juga mendukung perjuangan warga Wawonii. Terus berjuang dan lawan sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya, Sampai PT GKP ditutup,” ucapnya.
Saat dikonfirmasi Humas PT GKP, marlion membantah dugaan penyerobotan lahan milik warga di Desa Sukarela Jaya. Ia mengklaim bahwa lahan tersebut sudah dibebaskan oleh PT GKP.
“Itu bukan penerobosan, tetapi kami melintasi lahan yang telah kami bebaskan,” singkat Marlion.
Laporan: Man

























Tinggalkan Balasan