Mahasiswa KKN UHO Gagas Inovasi Pemanfaatan Kotoran Kambing Jadi Pupuk Kompos di Bombana

Keterangan Gambar : Mahasiswa KKN UHO Saat Melakukan Proses Pembuatan Pupuk Kompos

BOMBANA – Mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Rarowatu Kabupaten Bombana menghadirkan sebuah gagasan inovatif dan ramah lingkungan.

Mahasiswa KKN tersebut berhasil memanfaatkan kotoran kambing yang sebelumnya dianggap limbah, untuk diolah menjadi pupuk kompos organik yang bermanfaat bagi petani dan lingkungan.

Inisiatif ini digagas oleh mahasiswa jurusan Peternakan, salah satunya Damar, yang melihat potensi besar dari keberadaan kotoran kambing di Desa Rarowatu. Selama ini, kotoran kambing umumnya hanya dibiarkan menumpuk tanpa pengolahan lebih lanjut, padahal jika dimanfaatkan secara tepat dapat bernilai guna bagi pertanian.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN UHO mencoba memperkenalkan metode pengolahan sederhana untuk menjadikan kotoran kambing sebagai pupuk kompos organik. Inovasi ini bukan hanya sekadar memanfaatkan limbah, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat Rarowatu.

“Kotoran kambing memiliki kandungan unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang sangat dibutuhkan tanaman. Jika dikelola dengan baik, kotoran kambing tidak lagi menjadi masalah, tetapi bisa menjadi berkah bagi petani,” jelas Damar, Jumat (5/9/2025).

Ia menambahkan, selama ini petani di desa tersebut masih sangat bergantung pada pupuk kimia yang harganya semakin mahal. Kehadiran pupuk kompos organik diharapkan dapat menjadi solusi alternatif yang lebih murah, ramah lingkungan, dan tetap efektif untuk meningkatkan hasil panen.

Metode yang diperkenalkan mahasiswa KKN UHO menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar desa. Bahan utama berupa sekam padi, kotoran kambing yang sudah tersedia dan sebagian telah mulai dikelola oleh masyarakat, pepaya busuk, serta air besar sebagai campuran alami.

“Proses pengolahan ini dipraktikkan langsung oleh mahasiswa dan disimak beberapa warga, dengan cara bahan-bahan dicampurkan lalu ditumpuk pada wadah yang disiapkan, kemudian ditutup rapat agar terjadi proses fermentasi,” jelasnya.

Lanjut Damar, dalam kurun waktu 3–4 minggu, campuran ini akan terurai sempurna menjadi pupuk kompos organik yang siap digunakan pada lahan pertanian.

Proses fermentasi ini tidak hanya mengurangi sifat limbah yang kurang bermanfaat, tetapi juga mempercepat dekomposisi bahan organik sehingga menghasilkan pupuk kompos yang kaya nutrisi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pengolahan pupuk kompos ini bisa dilakukan siapa saja dengan cara sederhana. Tidak membutuhkan teknologi rumit atau biaya besar. Yang terpenting adalah kemauan masyarakat untuk mencoba,” katanya.

Manfaat dari program ini tidak hanya berhenti pada peningkatan hasil pertanian, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan ekonomi desa. Dengan memanfaatkan kotoran kambing, masyarakat dapat menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kesehatan ternak, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

“Dari sisi ekonomi, penggunaan pupuk kompos organik dapat menekan biaya produksi pertanian. Bahkan, jika dikelola dengan serius, pupuk kompos organik ini bisa menjadi produk bernilai jual yang memberikan tambahan penghasilan bagi warga” terangnya.

Program KKN UHO di Desa Rarowatu ini menunjukkan bahwa inovasi kecil yang lahir dari kepedulian mahasiswa bisa memberi dampak nyata bagi masyarakat. Pemanfaatan kotoran kambing menjadi pupuk kompos organik menjadi contoh konkret bagaimana ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dapat diterapkan langsung untuk menjawab permasalahan di desa.

Ke depan, mahasiswa KKN berharap agar pemerintah desa maupun kelompok tani dapat mendukung pengembangan program ini, misalnya dengan menyediakan tempat khusus untuk pengolahan kompos atau membantu pemasaran produk jika sudah diproduksi dalam skala lebih besar.

“Kami ingin program ini tidak berhenti sampai di sini saja. Harapannya bisa menjadi kebiasaan baru masyarakat Rarowatu dalam mengelola limbah ternak, sekaligus menjadi salah satu kekuatan ekonomi desa,” tutup Damar.

Laporan: Jarman Alkindi

Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *