Menjaga Harmoni Wisata Selam Tomia

Keterangan Gambar : Pengamat Pariwisata dan Penulis Opini Kepariwisataan Wakatobi dan Indonesia, Muhammad Ali, SE, ME

OPINI – Pulau Tomia di Kabupaten Wakatobi dikenal sebagai salah satu destinasi wisata selam terbaik di dunia.

Keindahan terumbu karang dan kekayaan biota lautnya menjadi aset berharga yang harus dijaga bersama oleh seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, pelaku usaha, masyarakat lokal, maupun wisatawan.

Keributan yang terjadi pada 6 Juni 2026 di salah satu spot diving bernama MARI MABO dan kemudian viral di media sosial menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Peristiwa tersebut memunculkan berbagai persepsi di masyarakat, termasuk dugaan bahwa Nelayan Pelindung Pesisir (NPP) melakukan pengusiran terhadap penyelam lokal maupun wisatawan asing, dan ini ternyata tidak terjadi pengusiran.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis, tudingan tersebut perlu dilihat secara proporsional. NPP yang melakukan pengawasan dan menjaga kelestarian ekosistem pesisir melalui edukasi kepada para pengguna kawasan agar aktivitas penyelaman berlangsung dengan tetap memperhatikan kelestarian terumbu karang. Fungsi tersebut merupakan bagian dari upaya konservasi yang menjadi fondasi utama keberlanjutan pariwisata Wakatobi.

Di sisi lain, operator selam lokal juga memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pelayanan wisata bagi para penyelam domestik maupun mancanegara. Karena itu, hubungan antara pengelola kawasan dan operator lokal semestinya dibangun atas dasar komunikasi, saling menghormati, dan semangat kolaborasi.

Langkah mediasi yang dilakukan oleh Taman Nasional Wakatobi Seksi III Tomia Binongko, patut diapresiasi karena berhasil mengarahkan penyelesaian persoalan menuju perdamaian. Penyelesaian secara dialogis menunjukkan bahwa setiap perbedaan dapat diselesaikan tanpa memperpanjang konflik yang berpotensi merusak citra pariwisata Wakatobi di mata dunia.

Wakatobi adalah milik bersama. Keberhasilan menjaga reputasinya sebagai destinasi wisata kelas dunia tidak hanya bergantung pada keindahan alamnya, tetapi juga pada kemampuan seluruh pihak membangun sinergi dan menyelesaikan persoalan dengan bijaksana.

Momentum pascainsiden ini hendaknya dijadikan titik awal untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan kepastian tata kelola wisata selam, serta memastikan bahwa konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal dapat berjalan beriringan.

Dengan demikian, Pulau Tomia dan Wakatobi akan tetap menjadi destinasi yang aman, nyaman, dan membanggakan bagi wisatawan dari seluruh dunia.

Penulis: Muhammad Ali, SE, ME (Pengamat Pariwisata dan Penulis Opini Kepariwisataan Wakatobi dan Indonesia)

Potretsultra Potretsultra
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *