OPINI – Pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya dibangun oleh kebijakan pemerintah atau investasi besar, tetapi juga oleh individu-individu yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam.
Salah satu contoh yang layak mendapat perhatian adalah kehadiran Mr. Lorenz Mäder di kawasan Onemobaa, Pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Sejak tahun 1995, Lorenz Mäder telah menjadi bagian dari perjalanan konservasi di kawasan Tanjung Onemobaa. Di mata sebagian tokoh masyarakat setempat, kehadirannya bukan sekadar sebagai pelaku usaha atau pendatang, melainkan sebagai sosok yang turut menjaga keberlangsungan ekosistem pesisir, khususnya terumbu karang, biota laut, dan hamparan pasir pantai yang menjadi identitas kawasan tersebut.
Tokoh masyarakat Tomia, H. Alimasudin, S.KM., S.Kep., menilai bahwa keberadaan Lorenz Mäder memiliki peran penting dalam melindungi Tanjung Onemobaa. Menurutnya, tanpa adanya pengawasan dan kepedulian terhadap kawasan tersebut, pasir pantai berpotensi diambil secara bebas oleh masyarakat sehingga mengancam keberadaan garis pantai dan bahkan dapat meningkatkan risiko abrasi yang pada akhirnya membahayakan keberlangsungan kawasan pesisir.
Pandangan tersebut menjadi menarik jika dikaitkan dengan kondisi di beberapa pulau lain di sekitar Tomia. Berdasarkan pengamatan penulis, sekitar tiga dekade lalu Pulau Sawah dan Pulau Lentea memiliki hamparan pasir yang tidak kalah indah dibandingkan Onemobaa. Namun, karena minimnya pengawasan dan perlindungan, sebagian besar pasir pantai di kawasan tersebut perlahan hilang akibat eksploitasi yang tidak terkendali.
Fakta ini memberikan pelajaran penting bahwa sumber daya alam yang tampak melimpah sekalipun dapat habis apabila tidak dikelola secara bijaksana. Pasir pantai bukan sekadar material biasa, melainkan bagian dari sistem ekologi yang menjaga keseimbangan pesisir, melindungi daratan dari gelombang, serta menjadi habitat bagi berbagai organisme laut.
Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap konsep pariwisata berkelanjutan, pengalaman Onemobaa menunjukkan bahwa konservasi merupakan investasi jangka panjang. Keindahan pantai, kejernihan laut, dan kesehatan terumbu karang adalah modal utama destinasi wisata bahari seperti Wakatobi. Ketika lingkungan rusak, maka daya tarik wisata pun ikut tergerus.
Karena itu, upaya pelestarian tidak boleh hanya bergantung pada satu individu. Pemerintah daerah, masyarakat adat, pelaku wisata, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan perlu membangun komitmen bersama untuk menjaga kawasan pesisir dari aktivitas yang merusak lingkungan.
Onemobaa hari ini dapat menjadi contoh bahwa kepedulian terhadap alam mampu memberikan manfaat lintas generasi. Kisah Lorenz Mäder dan dukungan masyarakat setempat menunjukkan bahwa kolaborasi antara masyarakat lokal dan pihak yang memiliki visi konservasi dapat menghasilkan dampak positif bagi lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pariwisata.
Pada akhirnya, menjaga pasir pantai, terumbu karang, dan biota laut bukan hanya tentang melindungi keindahan alam, tetapi juga menjaga masa depan Wakatobi sebagai salah satu destinasi wisata bahari terbaik Indonesia. Sebab, pariwisata yang berkualitas hanya akan tumbuh di atas fondasi lingkungan yang tetap lestari.
Penulis: Muhammad Ali, SE., ME (Pengamat Pariwisata dan Penulis Opini Kepariwisataan Wakatobi dan Indonesia)

























Tinggalkan Balasan