Woipedia Jadi Sorotan, Kadis Perpustakaan Sultra Apresiasi Gerakan Literasi Desa Woitombo di Kolut

Keterangan Gambar : Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tenggara Hj. Usnia, S.KM., M.KM Bersama Tim Juri

KOLAKA UTARA — Semangat membangun desa melalui perpustakaan di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) kembali mendapat apresiasi.

Perpustakaan Woipedia Desa Woitombo, Kecamatan lambai kabupaten kolaka utara menjadi salah satu dari enam perpustakaan desa terbaik yang masuk dalam tahapan penilaian tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara.

Penilaian lapangan dilaksanakan Rabu, 30 September 2026, oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tenggara Hj. Usnia, S.KM., M.KM. bersama tim juri. Kegiatan ini merupakan rangkaian lomba perpustakaan desa terbaik tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara.

Tahapan penilaian sebelumnya diawali dengan pengiriman video profil perpustakaan yang diunggah pada youtube dan dokumen pemenuhan berbagai indikator penilaian yang dilengkapi bukti dukung. Dari seluruh peserta, kemudian ditetapkan enam perpustakaan terbaik untuk mengikuti penilaian lapangan secara langsung.

Saat tiba di Perpustakaan Woipedia, tim penilai melihat langsung berbagai fasilitas, aktivitas, inovasi, serta dukungan Pemerintah Desa Woitombo dalam mengembangkan perpustakaan sebagai ruang belajar dan pemberdayaan masyarakat.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tenggara, Hj. Usnia, S.KM., M.KM., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Desa Woitombo yang dinilai telah menunjukkan komitmen kuat dalam menumbuhkan budaya literasi di tengah masyarakat.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kepala Desa Woitombo yang telah menumbuhkan literasi di desanya. Saya sangat bangga melihat langsung Perpustakaan Woipedia ini. Ternyata di desa memiliki gedung dan fasilitas yang lengkap, tidak kalah dengan perpustakaan di kota-kota besar,” ungkap Hj. Usnia.

Ia bahkan berharap keberadaan perpustakaan Woipedia desa woitombo dapat menjadi perhatian lebih luas sebagai contoh gerakan literasi berbasis desa.

“Ingin sekali rasanya Kepala Perpustakaan Nasional berkunjung ke sini dan menyaksikan langsung bagaimana gerakan literasi tumbuh di Desa Woitombo,” tambahnya.

Kepala Desa Woitombo Muh. Akbar menjelaskan bahwa pembangunan gedung perpustakaan bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Gagasan tersebut telah direncanakan jauh sebelum dirinya menjabat sebagai kepala desa bersama para pegiat literasi di desa, salah satunya yang kini menjabat sebagai Kepala BPD Desa Woitombo.

Setelah dipercaya memimpin desa, pembangunan perpustakaan kemudian menjadi salah satu prioritas Pemerintah Desa Woitombo.

“Pembangunan gedung perpustakaan ini sudah terpikirkan jauh hari sebelum saya menjadi kepala desa. Gagasan itu kami bangun bersama pegiat literasi yang saat ini menjabat sebagai Kepala BPD Desa Woitombo. Setelah saya menjadi kepala desa, pembangunan perpustakaan ini kami prioritaskan,” jelasnya.

Menurutnya, pengembangan Perpustakaan Woipedia semakin kuat setelah mendapat dukungan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kolaka Utara serta Perpustakaan Nasional RI melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS).

“Kami berharap dapat terus membangun desa melalui perpustakaan. Penilaian ini bukan tujuan utama kami. Kehadiran Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi bersama tim juri justru menjadi sebuah silaturahmi. Kami berharap silaturahmi ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut ke arah yang lebih baik,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kolaka Utara, Murni Baso, mengatakan bahwa masuknya Perpustakaan Woipedia dalam enam terbaik tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan sebuah kebanggaan bagi Kabupaten Kolaka Utara.

“Penilaian ini menjadi suatu kebanggaan bagi kami. Kami berharap Desa Woitombo melalui Perpustakaan Woipedia dapat menjadi role model sekaligus pemantik bagi desa-desa lainnya dalam meningkatkan literasi masyarakat,” ujar Murni Baso.

Ia menambahkan, keberhasilan perpustakaan desa tidak semata-mata diukur dari kelengkapan gedung dan fasilitas, tetapi juga dari bagaimana perpustakaan mampu hadir di tengah masyarakat, memberikan manfaat, serta menjadi ruang belajar dan pemberdayaan masyarakat.

Perpustakaan Woipedia sendiri selama ini terus dikembangkan sebagai ruang literasi yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas membaca, tetapi juga menjadi wadah berbagai kegiatan masyarakat dan pengembangan potensi desa.

Kunjungan tim penilai Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi momentum penting bagi Desa Woitombo untuk menunjukkan bahwa gerakan literasi dapat tumbuh kuat dari desa ketika didukung oleh komitmen pemerintah desa, masyarakat, pegiat literasi, serta sinergi dengan pemerintah daerah dan Perpustakaan Nasional.

Dari Woitombo, sebuah pesan sederhana kembali digaungkan: membangun desa tidak hanya dengan infrastruktur, tetapi juga dengan membangun manusia melalui literasi.

Laporan: Andika

Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *