KENDARI – Sebuah ikhtiar besar untuk membangkitkan kembali memori kejayaan dan soliditas masyarakat Muna sedang dirajut.
Di bawah komando Ketua Umum Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara, La Ode Darwin, Bumi Sowite bersiap mengembalikan supremasi sosialnya yang pernah disegani dan diperhitungkan, layaknya era emas kepemimpinan legendaris La Ode Kaimuddin.
Langkah monumental ini akan dikemas lewat sebuah mahakarya kultural bertajuk Pelestarian Adat dan Penguatan Persaudaraan Masyarakat Muna. Eks MTQ dan Tugu Religi Kota Kendari dipilih menjadi episentrum perhelatan akbar yang dijadwalkan menghentak pada 19 Juli 2026 mendatang.
Mengusung tema besar “Merajut Persaudaraan, Melestarikan Adat dalam Semangat Kawunaha yang Luhur Menuju Indonesia Emas 2045”, agenda ini diproyeksikan menjadi salah satu festival budaya terbesar yang pernah menghiasi langit Sulawesi Tenggara.
Tidak main-main, panitia membidik kehadiran sedikitnya 20.000 masyarakat Muna untuk melebur dalam ruang komunal tersebut.
Ketua Panitia, Dr. L.M. Bariun, S.H., M.H., menegaskan bahwa gelaran ini melampaui sekadar panggung hiburan rakyat. Ini adalah momentum strategis untuk mematri kembali tali persaudaraan sekaligus membentengi warisan adiluhung Wuna agar tak tergerus roda modernisasi.
“Ini adalah momentum besar untuk memanggil pulang ingatan kolektif kita, mempererat silaturahmi, dan mewariskan kekayaan kultural Muna kepada generasi muda. Nilai-nilai Kawunaha harus tetap menjadi roh kebersamaan kita dalam membangun daerah dan bangsa,” cetus Dr. L.M. Bariun, Kamis (18/6/2026) dengan penuh optimisme.
Salah satu agenda yang dipastikan menjadi magnitudo perhatian publik adalah penyajian 1.000 dulang. Prosesi kolosal ini ditargetkan mampu mengukir sejarah baru dalam catatan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Lebih dari sekadar ritual jamuan, tradisi dulang merupakan personifikasi dari filosofi gotong royong, bentuk penghormatan sakral kepada tamu, serta cerminan nilai kekeluargaan yang telah mengakar kuat dalam nadi peradaban masyarakat Wuna selama berabad-abad.
Koordinator Humas Kegiatan, La Ode Muhram Naadu, mengungkapkan bahwa seluruh lini persiapan terus dimatangkan demi menyuguhkan pertunjukan yang megah dan berkesan mendalam.
“Kami memanggil seluruh keluarga besar Muna dan masyarakat Sulawesi Tenggara untuk hadir. Ini adalah pesta budaya rakyat yang inklusif sekaligus bukti otentik bahwa adat dan tradisi adalah perekat persatuan terbaik,” ujar La Ode Muhram.
Guna mengetuk pintu keberkahan, rangkaian acara akan diinisiasi dengan Kabasano Haroa—sebuah ritual doa keselamatan kolektif. Setelah itu, para pengunjung akan dihipnotis oleh rentetan atraksi budaya khas Muna yang sarat akan nilai historis.
Rentetan atraksi itu antaranya perkelahian kuda: Sebuah teatrikal alamiah yang menggambarkan keberanian, ketangkasan, dan harga diri.
Kemudian ada Modero: Tarian melingkar yang menjadi simbol kebersamaan tanpa sekat serta keakraban masyarakat Muna.
Selanjutnya Tari Linda: Gerakan gemulai yang memancarkan keindahan estetika dan keanggunan budaya Wuna, dan Ewa Wuna: Seni bela diri tradisional yang menjadi media transfer sejarah, karakter, dan identitas tangguh bagi generasi muda.
Seluruh kemeriahan ini nantinya akan dipungkas oleh hiburan rakyat yang dikemas apik dalam balutan seni, adat, dan kebersamaan yang hangat.
Di bawah nakhoda La Ode Darwin, KKMM Sultra tampaknya sedang mengirim pesan kuat bahwa kebangkitan identitas, solidaritas, dan kebanggaan masyarakat Muna kini telah tiba.
Bumi Sowite siap kembali menunjukkan eksistensi gemilangnya di panggung Bumi Anoa, sekaligus memberi kontribusi nyata bagi masa depan Indonesia.
Laporan: Jumrin

























Tinggalkan Balasan