KENDARI – Pemerintah Kecamatan Baruga, Kota Kendari mulai was-was terkait kemungkinan adanya gagal panen persawahan di wilayah Amohalo.
Tak tanggung-tanggung, area persawahan tersebut mencapai 210 hektare yang berpotensi gagal panen akibat badai elnino yang melanda Sulawesi Tenggara (Sultra).
Camat Baruga, Sentosa menerangkan, guna menanggulangi potensi gagal panen itu, pihaknya sudah menyampaikan ke Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari untuk melakukan pompanisasi.
Pompanisasi dilakukan untuk memenuhi kebututan air persawahan di wilayah Amohalo. Pasalnya, sungai di sekitar persawahan tak mampu lagi mengairi ratusan hektare sawah tersebut.

Kondisi persawahan di Kecamatan Baruga, Kota Kendari berpotensi gagal panen akibat elnino. Foto: Istimewa.
“Memang persawahannya itu sudah mengalami kekeringan,” ucap Sentosa saat ditemui di Kantor DPRD Kendari, Senin (16/10/2023).
Dinas Pertanian Kota Kendari menyebutkan, kekeringan ini menyebabkan tanaman padi menjadi kerdil, kuning kecoklatan, daun menggulung hingga terbakar, anakan berkurang, pertumbuhan bulir tidak maksimal hingga biji hampa.
“Rencana panen pada akhir Oktober hingga September 2023 dengan risiko puso seluas 28 hektare (data pengamatan per awal Oktober 2023) dengan peluang gagal panen akan bertambah hingga akhir Oktober 2023,” ungkap Kadis Pertanian, Sahurianto, Kamis (12/10/2023).

Kondisi persawahan di Kecamatan Baruga, Kota Kendari berpotensi gagal panen akibat elnino. Foto: Istimewa.
Mantan Kabag Umum Kota Kendari ini menjelaskan, untuk menangani persoalan itu, mereka akan memaksimalkan suplai air melalui pompanisasi untuk memenuhi kebutuhan air pada areal seluas 210 ha yang terdampak. Namun masih dibutuhkan mesin pompa air atau alkon untuk mengurangi atau antisipasi luasan gagal panen yang berpeluang semakin bertambah.
Selain di areal persawahan, Dinas Pertanian juga melaporkan kekeringan juga terjadi pada lahan pertanian lainnya, seperti tanaman sayuran di Kelurahan Labibia, Kecamatan Mandonga.
Apalagi, prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) musim kemarau berakhir di sebagian Indonesia mulai akhir Oktober 2023. Namun keragaman iklim, menyebabkan, musim hujan tidak terjadi secara serentak di seluruh Indonesia.

Kondisi persawahan di Kecamatan Baruga, Kota Kendari berpotensi gagal panen akibat elnino. Foto: Istimewa.
Musim penghujan diperkirakan dimulai November 2023 dan puncaknya akan terjadi pada Januari-Februari 2024 pada beberapa wilayah Indonesia.
Fenomena Elnino masih akan bertahan dan berangsur berakhir pada Februari-Maret 2024 seiring datangnya musim hujan.
Sementara itu Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu yang menerima laporan tersebut, memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menggunakan 3 dari 5 mesin pompanya untuk mengalihkan air ke kawasan persawahan Amohalo, Kecamatan Baruga.
Ini dilakukan untuk menyelematkan sejumlah sawah yang masih berpotensi panen, sehingga potensi puso bisa dikurangi.
“Untuk kawasan, lahan-lahan yang masih produktif yang masih bisa kami selamatkan, kami selamatkan terlebih dahulu itu prioritas,” ungkapnya.
Laporan: Aden

























Tinggalkan Balasan