KENDARI – Kabupaten Kolaka Utara menunjukkan prestasi gemilang dalam pengembangan budaya literasi.
Hal itu dibuktikan dengan keberhasilan memboyong sejumlah penghargaan pada Festival Literasi Sulawesi Tenggara (Sultra) 2026 yang digelar di Kendari, 3–5 November 2026.
Penghargaan yang diraih mencakup berbagai kategori, mulai dari tokoh peduli literasi, penggerak program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), inovasi perpustakaan desa, prestasi pelajar, hingga kreativitas seni dan pameran.
Salah satu penghargaan bergengsi diterima Bunda Literasi Kolaka Utara, Dra. Hj. Andi Nurhayani Nur Rahman, sebagai Tokoh Peduli Literasi dan Kesejahteraan Masyarakat. Apresiasi serupa juga diberikan kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kolaka Utara, Murni Baso, S.Pd.SD., yang dinobatkan sebagai Kepala Dinas Penggerak Terbaik TPBIS.
Di tingkat pemerintahan desa, Kepala Desa Woitombo, Muhammad Akbar, S.Pd., berhasil meraih penghargaan sebagai Kepala Desa dengan Komitmen Keberlanjutan TPBIS Terbaik sekaligus Juara I Perpustakaan Desa Terbaik.
Sementara itu, Andi Idha TLP, S.Sos., M.Si., turut mengukir prestasi dengan meraih dua penghargaan sekaligus, yakni PIC dengan Kinerja Implementasi Terbaik dan Fasilitator Daerah TPBIS Terbaik.
Prestasi juga datang dari kalangan pelajar Kolaka Utara. Nurul Hikmah Aidin dari MA As’adiyah Lapai berhasil meraih Juara II lomba resensi buku, sedangkan Sahra Tunnisah dari SMK Negeri 1 Kolaka Utara memperoleh Juara III pada kategori yang sama.
Adapun Asyrafiatul Ramsah berhasil meraih Juara III lomba bertutur tingkat SD/MI.
Tidak hanya pada kategori individu dan pendidikan, kontingen Kolaka Utara juga tampil unggul dalam bidang kreativitas.
Mereka berhasil meraih Juara I lomba vokal grup Mars Perpustakaan serta Terbaik I kategori pameran Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Seluruh penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tenggara, Hj. Usnia, S.KM., M.KM., pada rangkaian penutupan festival.
Festival Literasi Sultra 2026 sendiri dibuka oleh Bunda Literasi Provinsi Sulawesi Tenggara, Arinta Nila Hapsari. Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan membaca sebagai fondasi menciptakan masyarakat yang cerdas, berpengetahuan, dan memiliki wawasan luas.
Menurutnya, gerakan literasi tidak cukup hanya mengandalkan sekolah dan perpustakaan, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, terutama orang tua dalam memperkenalkan buku kepada anak sejak usia dini.
Ia juga mendorong agar pelaksanaan festival pada tahun mendatang semakin inovatif dengan menghadirkan kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung, salah satunya lomba membaca nyaring atau read aloud bagi ibu rumah tangga non-ASN se-Sulawesi Tenggara.
Melalui kegiatan tersebut, para ibu diharapkan dapat menjadi penggerak budaya membaca di lingkungan keluarga. Kebiasaan membacakan buku kepada anak dinilai mampu memperkaya kosakata, meningkatkan pengetahuan, sekaligus mengembangkan daya imajinasi anak.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kolaka Utara, Murni Baso, menyambut baik penguatan kegiatan literasi yang melibatkan masyarakat secara lebih luas. Ia berharap festival serupa ke depan tidak hanya menjadi ajang kompetisi dan pemberian penghargaan, tetapi juga mampu menghadirkan kegiatan kreatif yang berdampak langsung terhadap peningkatan minat baca masyarakat.
Literasi sebagai Gerakan Pemberdayaan Masyarakat
Deretan penghargaan yang diraih Kolaka Utara menjadi gambaran bahwa pengembangan literasi dapat tumbuh melalui kolaborasi berbagai elemen, mulai dari pemerintah daerah, pengelola perpustakaan, pemerintah desa, tenaga pendidik, pelajar hingga masyarakat.
Melalui program TPBIS, perpustakaan diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan keterampilan, kreativitas, serta membuka peluang usaha berbasis potensi lokal.
Capaian di Festival Literasi Sultra 2026 ini sekaligus menjadi motivasi bagi Kolaka Utara untuk terus memperluas gerakan literasi hingga ke tingkat desa dan keluarga.
Sebab, keberhasilan membangun masyarakat yang literat bukan hanya diukur dari banyaknya penghargaan yang diperoleh, melainkan sejauh mana budaya membaca tumbuh menjadi kebiasaan dan memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Laporan: Andika

























Tinggalkan Balasan