OPINI – Setiap bulan Agustus, Indonesia selalu berubah wajah. Bendera Merah Putih berkibar di setiap sudut jalan. Lomba-lomba digelar.
Upacara dilaksanakan dengan penuh khidmat. Lagu-lagu perjuangan kembali terdengar.
Namun, di tengah semua kemeriahan itu, ada pertanyaan yang seharusnya berani kita tanyakan kepada diri sendiri.
Merdeka untuk siapa?
Karena bagi sebagian rakyat, kemerdekaan hanya terasa setiap tanggal 17 Agustus. Setelah itu, mereka kembali menghadapi kenyataan yang sama. Harga kebutuhan pokok terus naik. Lapangan pekerjaan semakin sulit. Gaji terasa tidak cukup. Sementara biaya hidup terus mengejar tanpa ampun.
Banyak orang bekerja dari pagi hingga malam, bahkan ada yang mengambil dua pekerjaan sekaligus. Tetapi tetap saja mereka hidup dari gaji ke gaji. Ketika awal bulan datang, penghasilan langsung habis untuk membayar kebutuhan. Bukan untuk menabung, bukan untuk berlibur, tetapi hanya agar keluarga bisa tetap makan.
Ironisnya, orang yang bekerja paling keras justru sering menjadi orang yang paling sulit memenuhi kebutuhan hidup. Pedagang kecil harus bersaing dengan usaha besar. Petani bekerja di bawah terik matahari, tetapi hasil panennya belum tentu memberi keuntungan yang layak.
Nelayan menghadapi ombak demi membawa pulang ikan, tetapi harga jual sering kali tidak berpihak kepada mereka. Buruh bekerja tanpa mengenal waktu, namun upahnya sering kali hanya cukup untuk bertahan hidup.
Lalu, di mana letak kemerdekaan itu?
Bukankah kemerdekaan seharusnya memberi kesempatan kepada setiap orang untuk hidup lebih baik?
Kita memang sudah merdeka dari penjajahan. Tidak ada lagi bangsa asing yang menguasai negeri ini. Tetapi hari ini, banyak rakyat merasa sedang berjuang melawan “penjajah” yang berbeda bentuk. Bukan lagi senjata dan perang, melainkan mahalnya kebutuhan hidup, sempitnya lapangan pekerjaan, dan ketidakpastian ekonomi.
Yang lebih menyedihkan adalah ketika kondisi seperti ini mulai dianggap biasa. Kita terbiasa mendengar harga naik. Terbiasa melihat orang kehilangan pekerjaan. Terbiasa melihat lulusan perguruan tinggi menganggur. Terbiasa melihat orang tua bekerja keras tetapi tetap kesulitan menyekolahkan anaknya.
Padahal, sesuatu yang sering terjadi belum tentu sesuatu yang harus diterima begitu saja.
Kemerdekaan tidak boleh berhenti menjadi cerita sejarah yang diperingati setiap tahun. Kemerdekaan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ketika rakyat bisa bekerja dengan layak. Ketika usaha kecil bisa berkembang.
Ketika anak-anak bisa sekolah tanpa orang tuanya takut tidak mampu membayar biaya pendidikan. Ketika orang yang bekerja keras benar-benar bisa menikmati hasil dari jerih payahnya.
Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Tanahnya subur. Lautnya luas. Sumber dayanya melimpah. Pertanyaannya, mengapa masih banyak rakyat yang hidup dalam kesulitan? Mengapa masih banyak keluarga yang harus mengurangi porsi makan karena harga kebutuhan semakin mahal? Mengapa masih banyak anak muda yang kehilangan harapan karena sulit mendapatkan pekerjaan?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Pertanyaan ini hadir agar kita tidak terlena oleh kemeriahan perayaan, lalu lupa melihat kenyataan yang masih dihadapi banyak orang.
Merayakan kemerdekaan tentu penting. Menghormati jasa para pahlawan adalah kewajiban. Tetapi menghormati perjuangan mereka tidak cukup hanya dengan upacara dan perlombaan. Penghormatan yang paling nyata adalah memastikan bahwa kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat. Karena arti merdeka bukan hanya bebas mengibarkan bendera.
Arti merdeka adalah ketika seorang ayah tidak lagi cemas memikirkan biaya sekolah anaknya. Arti merdeka adalah ketika seorang ibu tidak harus mengurangi belanja dapur karena harga kebutuhan terus naik.
Arti merdeka adalah ketika anak muda memiliki kesempatan bekerja sesuai kemampuannya. Arti merdeka adalah ketika kerja keras mampu membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih baik.
Maka, di usia Indonesia yang terus bertambah, semoga yang bertambah bukan hanya angka, tetapi juga keadilan, kesejahteraan, dan harapan. Sebab kemerdekaan tidak seharusnya hanya menjadi milik mereka yang sudah hidup berkecukupan.
Kemerdekaan akan benar-benar berarti ketika tidak ada lagi rakyat yang merasa menjadi orang asing di negerinya sendiri hanya karena sulit memenuhi kebutuhan hidup.
Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga suatu hari nanti, ketika kita bertanya, “Merdeka untuk siapa?”, kita semua bisa menjawab dengan bangga, “Untuk seluruh rakyat Indonesia.”
Penulis: Muh. Ali Rusdin (Ketua Umum HMPS PKO Unsultra)

























Tinggalkan Balasan