Bupati Kolut Jajaki Teknologi Pengolahan Sampah Hidrotermal, Investasi Ditawarkan Capai Rp69 Miliar

Keterangan Gambar : Kolase Foto Pertemuan yang Memaparkan Teknologi Hydrothermal Waste Treatment Technology di Kediaman Sekda Kolut

KOLAKA UTARA – Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara mulai menjajaki penerapan teknologi pengolahan sampah berbasis hidrotermal sebagai alternatif untuk mengatasi persoalan persampahan sekaligus mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Penjajakan tersebut dibahas dalam pertemuan bersama H. Suhaemi Fattah, S.E., yang memaparkan teknologi Hydrothermal Waste Treatment Technology (HWTT) dari Center of Waste Management Indonesia (CWMI), di kediaman Sekretaris Daerah Kolaka Utara, H. Muhammad Idrus, S.Sos., M.Si., Sabtu (10/10/2026).

Dalam pemaparannya, CWMI menawarkan investasi sekitar Rp69 miliar untuk membangun sistem pengolahan sampah yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan volume limbah, tetapi juga menghasilkan produk turunan yang berpotensi dimanfaatkan secara ekonomi.

Bupati Kolaka Utara, Nurrahman Umar, menyambut baik penjajakan tersebut. Menurutnya, persoalan sampah perlu ditangani melalui pendekatan yang lebih terencana, inovatif, dan berkelanjutan, sehingga tidak semata-mata menjadi beban lingkungan, tetapi juga berpeluang memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah.

Ia menegaskan, setiap rencana penerapan teknologi baru harus terlebih dahulu dikaji secara menyeluruh agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Kabupaten Kolaka Utara.

Menurutnya, pemerintah daerah terbuka terhadap inovasi dan peluang investasi yang dapat mendukung pembangunan daerah. Namun, rencana tersebut harus didukung kejelasan dari sisi teknologi, pembiayaan, kesiapan pelaksanaan, serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

“Kita tentu berharap ada solusi yang benar-benar bisa menjawab persoalan persampahan di Kolaka Utara. Karena itu, rencana ini perlu ditindaklanjuti secara serius, mulai dari kajian teknis, kesiapan sarana dan prasarana, kepastian investasi, hingga dampak lingkungannya. Jangan sampai hanya berhenti pada pemaparan, tetapi harus dipastikan kelayakan dan manfaatnya apabila nantinya diterapkan,” tegasnya.

Teknologi Hidrotermal Ditawarkan untuk Olah Beragam Limbah

Teknologi HWTT yang dipaparkan CWMI memanfaatkan suhu dan tekanan tinggi di dalam reaktor berair untuk memproses berbagai jenis sampah dan limbah organik.

Berdasarkan materi presentasi, bahan baku yang berpotensi diolah meliputi sampah perkotaan, sisa makanan, limbah pertanian dan perkebunan, jerami, bonggol jagung, kulit kakao, tandan kosong kelapa sawit, hingga kotoran ternak.

Proses pengolahan tersebut ditawarkan untuk menghasilkan sejumlah produk, antara lain bahan bakar padat menyerupai arang, briket, serta pupuk dalam bentuk cair dan padat.

Produk bahan bakar yang dihasilkan juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif bagi industri, sepanjang memenuhi persyaratan teknis, standar mutu, dan ketentuan keselamatan yang berlaku.

Jika dapat diterapkan secara layak, teknologi ini berpeluang mendukung pengurangan timbunan sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA), sekaligus mendorong pemanfaatan limbah melalui konsep ekonomi sirkular.

Meski demikian, efektivitas pengolahan, kualitas produk, kebutuhan energi, biaya operasional, serta dampak terhadap lingkungan masih perlu dibuktikan melalui kajian teknis dan pengujian yang sesuai.

Investasi Rp69 Miliar Masih Perlu Dikaji
Dalam materi yang dipresentasikan, nilai investasi pengembangan fasilitas pengolahan sampah tersebut ditawarkan mencapai Rp69 miliar.

Skema pendanaan yang dipaparkan terdiri atas 60 persen investasi asing dan 40 persen investasi lokal melalui pihak yang disebut sebagai Danantara. Perusahaan juga mencantumkan estimasi pengembalian investasi selama empat tahun.

Angka dan skema tersebut masih merupakan bagian dari penawaran yang disampaikan dalam pertemuan. Kepastian sumber pendanaan, struktur investasi, kelayakan bisnis, dan realisasi pembiayaan masih memerlukan verifikasi serta pembahasan lebih lanjut.

Selain itu, rencana penerapan teknologi hidrotermal membutuhkan kajian awal yang mencakup aspek teknis dan rekayasa, kelayakan ekonomi dan finansial, potensi pasar produk olahan, kesiapan infrastruktur, serta pemenuhan regulasi dan persyaratan lingkungan.

Ketersediaan pasokan sampah secara berkelanjutan, penentuan lokasi pembangunan, kebutuhan lahan, dan kesiapan sarana pendukung juga menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan sebelum proyek memasuki tahap pelaksanaan.

Sekretaris Daerah Kolaka Utara, H. Muhammad Idrus, menekankan agar penjajakan investasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan pemaparan dan diskusi semata.

Ia meminta pihak yang menawarkan teknologi dan investasi memberikan gambaran yang lebih terperinci mengenai tahapan persiapan, rencana lokasi pembangunan, kesiapan lahan, proses perizinan, sosialisasi kepada masyarakat, hingga perkiraan waktu pelaksanaan.

“Harapan kita, pembahasan ini tidak hanya sampai pada seremoni pemaparan atau diskusi, tetapi bisa ditindaklanjuti menjadi sesuatu yang nyata. Karena itu, kita membutuhkan penjelasan yang lebih rinci mengenai tahapan pelaksanaan, kesiapan investasi, serta apa saja yang harus dipersiapkan oleh pemerintah daerah,” ujar Idrus.

Ia juga menilai koordinasi lintas sektor perlu diperkuat dengan melibatkan DPRD dan pemangku kepentingan terkait agar setiap tahapan dapat dibahas secara terbuka dan sesuai ketentuan.

Keterlibatan PT Mikuasi Energi Lestari dalam pertemuan tersebut menjadi bagian dari penjajakan kemungkinan kerja sama dengan mitra lokal. Namun, bentuk, ruang lingkup, dan mekanisme kerja sama masih perlu dipastikan melalui pembahasan serta kesepakatan resmi para pihak.

Harus Memberikan Manfaat Nyata bagi Daerah

Penjajakan teknologi pengolahan sampah hidrotermal ini menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan Pemkab Kolaka Utara dalam mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Pemerintah daerah berharap inovasi tersebut dapat membuka peluang pengurangan beban TPA, pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah, serta pengembangan kegiatan ekonomi baru apabila seluruh aspek kelayakannya terpenuhi.

Tahapan berikutnya akan sangat bergantung pada hasil pendalaman teknis, kepastian investasi, kesiapan infrastruktur, pemenuhan persyaratan perizinan, dan kajian dampak lingkungan. Dengan demikian, rencana tersebut masih berada pada tahap penjajakan dan belum dapat dipastikan sebagai proyek yang akan langsung direalisasikan.

Pemkab Kolaka Utara menempatkan aspek kelayakan, transparansi, kepatuhan terhadap regulasi, dan manfaat bagi masyarakat sebagai pertimbangan penting sebelum menentukan langkah lebih lanjut dalam pengembangan teknologi pengolahan sampah tersebut.

Laporan: Andika

Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *