OPINI – Hari kemerdekaan merupakan momen bersejarah terpenting bagi seluruh bangsa dan negara termaksud negara Indonesia.
Pasalnya di setiap kemerdekaan yang direbut melalui perjuangan dan perjalanan panjang. Bukan cuma keringat yang jadi taruhannya tetapi nyawa rela dikorbankan demi bebas dari penjajahan.
Negara Indonesia salah satunya merupakan negara yang pernah dijajah selama kurang lebih 3,5 abad oleh kolonialisme dan imperialisme. Akibat dari penjajahan itu banyak rakyat Indonesia dulu mengalami penderitaan, kebodohan, kemiskinan, dan kerja paksa.
Terbangun dari peristiwa tersebut founding father bangsa ini bercita-cita untuk terlepas dari penjajahan. Beratus-ratus tahun lamanya berjuang untuk merebut kemerdekaan, diperjuangkan dari generasi ke generasi. Hingga pada 17 Agustus tahun 1945 negara Indonesia telah resmi memproklamasikan kemerdekaannya melaui Ir Soekarno dan Muhammad Hatta disaksikan langsung masyarakat Indonesia.
Tidak terasa tepat hampir satu abad Indonesia merdeka. Tepatnya pada 17 Agustus 2022 beberapa hari yang lalu negara Republik Indonesia telah merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) RI yang ke 77. Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kemerdekaan, mulai dari upacara pengibaran bendera merah putih, peringatan proklamasi, karnaval budaya, hingga beragam jenis perlombaan tradisional di setiap daerah.
Akan tetapi momentum perayaan 17 Agustus setiap tahun dirayakan hanya seremonial sebagai wujud memperingati kemerdekaan saja. Jauh dari cita-cita kemerdekaan yang tertuang dalam isi pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Janji kemerdekaan yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Janji kemerdekaan yang dicita-citakan belum sepenuhnya sesuai dengan harapan bangsa ini, mengapa demikian? Karena masih banyak kita temukan masalah yang cenderung menyimpang dari cita cita negeri ini, dari berbagai sektor, sebut saja sektor Pendidikan, sosial, pertanian, dan lain-lain.
Menurut data United Nations Children’s Fund (Unicef) tahun 2020 bahwa sekitar 4,1 juta anak-anak dan remaja di Indonesia berusia 7-18 tahun tidak bersekolah. Remaja usia sekolah menengah pertama (13 – 15 tahun) dari rumah tangga termiskin, lima kali lebih besar kemungkinannya untuk putus sekolah jika dibandingkan dengan remaja dari rumah tangga terkaya.
Dari data ini menunjukkan faktor anak-anak atau remaja yang tidak sekolah yang tinggi karena faktor biaya Upaya pemerintah untuk mengatasi angkah putus sekolah, melaui Kartu Indonesia Pintar (KIP), belum maksimal. Karena masih banyak kita temukan yang putus sekolah terkendala biaya.
Di Sektor sosial, kita masih menemukan adanya tindakan yang cenderung jauh dari keadilan sosial dan adanya dugaan intimidasi hak yang yang terjadi. Salah satunya kasus pengepungan, kekerasan, serta penangkapan paksa oleh oknum kepolisian untuk mengamankan tambang batuan andesit pada 8 Februari 2022 lalu, di Desa Wadas Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo.
Kemudian kasus penindasan dan intimidasi yang terjadi di Desa Sukarela Jaya Kecamatan Wawonii Tenggara Kabupaten Konawe Kepulauan oleh oknum perusahaan tambang PT GKP terhadap masyarakat yang menolak lahannya untuk ditambang.
Di sektor ekonomi angka kemiskinan tinggi, apalagi di beberapa tahun belakangan ini dunia termasuk Indonesia dilanda bencana Covid 19 yang mengakibatkan merosotnya perekonomian. Dilansir dari Data BPS menunjukkan Jumlah penduduk miskin pada Maret 2022 sebesar 26,16 juta orang. Dari data itu mencatat, persentase penduduk miskin di Indonesia sebesar 9,54%. Angka kemiskinan di Indonesia jauh dari negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, Singapura dan Thailand.
Untuk sektor pertanian pemerintah masih mengandalkan impor pangan padahal Indonesia kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). Salah satu dari komoditas pertanian yang masih impor adalah beras. Kita masih kalah jauh dari negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. Upaya mereka sungguh tak mengenal lelah, termasuk mengembangkan dan menerapkan inovasi pertanian. Target mereka bukan lagi sekadar mencapai swasembada, melainkan tampil menjadi negara produsen beras terbesar di dunia.
Ketika persediaan beras di Inonesia menyusut, maka Thailand dan Vietnam menjadi penyelamat untuk impor beras. Sehingga mindset masyarakat kita lebih baik, cari uang untuk beli beras dari pada menjadi petani padi untuk menghasilkan uang. Belum lagi kita urai kasus di sektor Kesehatan, pemerintahan, HAM, korupsi dan lain-lain.
Solusi yang ditawarkan dari rentetan permasalah ini adalah adanya kolaborasi pemerintah dan masyarakat terutama generasi muda Indonesia. Pemerintah memprioritaskan pembagunan Sumber Daya Manusia melalui program beasiswa untuk masyakat yang terkendala biaya untuk studi. Masih perlunya pemerataan pendidikan di daerah-daerah terpencil, meski saat ini program Kampus Merdeka mulai digaungkan.
Generasi kita bukan Cuma ilmu pengetahuan yang diajari akan tetapi harus dengan teknologi, supaya mengikuti tuntutan dan perkembangan zaman.
Di sektor ekonomi pemerintah harus berfikir untuk pembagunan ekonomi berkelanjutan melalui mendorong investasi, perdagangan, industri dan jasa, maritim, dan pariwisata yang prosedural dan taat hukum serta didukung infrastruktur yang baik. Pemerintah harus memberikan support kepada generasi muda yang berkarir di bisnis digital sehingga bisa menjadi motivasi untuk anak-anak muda yang lain dalam memulai karirnya.
Kemudian sektor pertanian, pemerintah mengajak anak muda harus bertani dan turun melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada petani-petani yang masih tradisional untuk menjadi petani modern dengan berbagai inovasi tekhologi di era digital serta menyediakan sarana dan prasaran yang lengkap. Sehingga mengurangi impor pangan, bahkan Indonesia mampu menjadi negara ekspor pangan dunia. Sehingga mampu mewujudkan Indonesia emas di 2045.
Sampai saat ini, kami generasi muda Indonesia masih menagih janji kemerdekaan yang telah lama hilang dan belum sepenuhnya terlunasi.
Penulis: Jarman Alkindi (Pengurus HMI Komisariat UMK Cabang Kendari)

























Tinggalkan Balasan